kampunghilir

Just another WordPress.com site

Islam dan Kapitalis

Jika kita menyebut Islam, maknanya bisa bermacam-macam. Bisa mengacu pada ajaran Islam itu sendiri, lembaga keagamaan, cendikiawan dan ulama atau media-media yang memasarkan Islam bisa cendikiawan muslim atau secara spesifik para ulama baik yang tergabung di dalam lembaga atau ormas atau ulama independen. Merekalah yang sesungguhnya bertanggungjawab terhadap masa depan Islam. Di dalam sebuah hadis Rasul pernah bersabda, al-‘ulama warasat al-anbiya (ulama adalah pewaris para nabi). Bagaimana warna dan corak Islam yang mengemuka, sesungguhnya ditentukan oleh para ulama. Wajah Islam biasanya mereka tampilkan lewat ceramah dan khotbah-khotbah bisa juga lewat tulisan-tulisan. Memang terkadang, perilaku umat juga sangat menentukan wajah Islam. Namun harus diingat, bagaimana umat berperilaku, juga berangkat dari penjelasan Islam yang mereka terima. Bukankah para teroris dengan paham Islam yang rigid dan radikal juga dipengaruhi oleh pemikiran “ulamanya” atau “syekhnya.”

Pada bulan puasa ini kaum kapitalis  sesungguhnya yang paling menentukan bagaimana wajah umat Islam selama bulan Ramadhan ini. Bukan saja umatnya yang dibajak, (sebagian) ulamanya atau para da’inya juga dibajak oleh kepentingan kaum kapitalis ini.

Kita bisa menyebut beberapa contoh. Jika para ulama menyebut bahwa makna Ramadhan adalah al-imsak yang artinya pengendalian diri termasuk dalam hal konsumsi, maka kaum kapitalis mengajarkan, pengendalian diri hanya berlangsung dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Namun setelah berbuka, kesempatan anda untuk mengumbar nafsu konsomtif anda. Jika ulama menjelaskan berbuka puasalah dengan amat sederhana, seteguk air dan sebutir atau dua butir kurma, kaum kapitalis mengajarkan, berbukalah dengan memanjakan selera anda. Tidak perlu ditahan-tahan. Bukankah kesempatan ini hadir hanya satu bulan dalam setahun.

Contoh lain adalah, jika para ulama mengajarkan pentingnya meningkatkan kesalehan sosial dengan meningkatkan intensitas dan kualitas infaq dan sadaqah, maka para kapitalis mengajarkan kesalehan pertama yang harus ditunjukkan adalah kesalehan simbolik. Anda tidak akan dipandang saleh jika tidak mengenakan busana muslim dengan mode terbaru. Tidaklah mengherankan jika umat Islam berbondong-bondong selama bulan Ramadhan untuk ramai-ramai membeli busana muslim dengan mode terbaru. Lebih jauh dari itu, jika para ulama mengatakan pakaian muslimah itu harus sederhana, tidak berlebih-lebihan dan yang paling penting menutup aurat, maka kaum kapitalis menafsirkan, kesalehan dalam berpakaian akan terlihat dengan jelas jika para wanita memilih pakaiannya hasil rancangan desainer terkenal yang harganya tentu mahal namun trendi. Sampai titik ini, menjadi tidak terelakkan ketika logika industri  budaya dunia mode telah bertemu dengan pergeseran kesadaran agama yang ditrasformasikan dalam bentuk eksotisme dan simbolisme dalam kesalehan berpakaian. Tidaklah mengherankan jika banyak artis yang di bulan-bulan lainnya berpakaian sangat seksi namun pada bulan Ramadhan dengan busana muslimahnya tampil seolah menjadi orang yang paling saleh. Beranjak dari fenome ini beberapa pertanyaan yang menarik untuk diajukan, apakah ada kaitan langsung antara fenomena kerundung/busana muslimah dengan kesadaran keberagamaan ?. Apakah orang yang mengenakan pakaian muslimah identik dengan sosok muslimah yang berakhlak mulia ? Jika pertanyaan ini ingin dilanjutkan, siapa sesungguhnya yang akan menentukan batasan aurat perempuan, ulama,ustad atau perancang mode ?

Siapakah yang berhak menentukan, ulama atau tepatnya para da’i, ustaz dan ustazah yang layak ditampilkan di televisi. Apa sesungguhnya yang menjadi ukuran seorang ustaz layak “masuk TV.” Menurut saya jawabannya hanya satu, selera pasar. Tidak terlalu penting, apakah ilmu yang dimiliki ustaz tersebut memungkinkan dirinya tampil  menyampaikan pesan Islam secara benar dan tepat atau tidak. Jadi jangan berharap lewat program ramadhan di TV, pemahaman umat terhadap agamanya akan meningkat dan menjadi produktif. Di samping selera pasar, ukuran lainnya adalah, ustaz tersebut harus mengikuti “perintah” kaum kapitalis. Bagaimana skenarionya atau contennya harus tetap berada dalam rancangan besar kaum pemilik modal. Contohnya, para ustaz yang tampil di TV harus didamping para artis beken yang tidak saja cantik dan menarik tetapi juga “sedikit genit.” Tidak jelas siapa memanfaatkan siapa. Apakah terlibatnya artis untuk meningkatkan popularitas sang ustad, menaikkan rating, atau malah kaum pemilik modal ingin menjual bahwa artis tersebut sangat cocern pada agama. Tanpa disadari akhirnya kitapun masuk dalam era “Religiotainment.” Istilah lain yang dapat menggambarkan ini adalah “era kesalehan instan,” dan “komersialisasi spiritualitas.”

Mungkin terlalu berlebihan. Namun kita tidak bisa menjawab pertanyaan yang kerap diajukan orang-orang yang resah, mengapa Ramadhan tidak membawa perubahan kepada kehidupan keberagamaan yang lebih baik ? Kita hanya membaca fenomena di atas dengan mengatakan, kehidupan keberagamaan kita tidak akan berubah menjadi lebih baik jika pemahaman keagamaan kita masih dangkal dan sebatas simbolik. Belum menyentuh perilaku, akhlak apa lagi karakter. Agaknya kaum kapitalis berhasil membentuk umat Islam menjadi saleh secara instan dan simbolik.

Lalu pertanyaannya di mana ulama ? mereka tetap ada. Mengamati dan hemat saya juga prihatin dan resah. Namun sayangnya mereka tidak bisa “mengintervensi” pasar. Penafsiran mereka tentang Islam yang benar kalah oleh penafsiran Islam kaum kapitalis. Kaum kapitalis sangat kuat dan itu terjadi karena mereka menguasai media. Ironisnya, sebagian ustaz dan da’i masuk dalam pusaran tafsiran kaum kapitalis tersebut.

Muhasabah kita selama Ramadhan ini tidak hanya mengacu pada dosa individu tetapi juga dosa sosial. Yang kita  takutkan adalah, ketika Rasul marah karena kita tidak mampu menjaga agama yang telah diwariskannya. Mengapa wajah Islam bisa dibajak kaum kapitas. Dan ini tidak pernah terjadi pada era Rasul dan sahabat. Tanya, mengapa ?

Sumber : Waspada

August 23, 2011 - Posted by | Artikel, Islamic and The Capitalist

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: