kampunghilir

Just another WordPress.com site

Pengemis

Bukan rahasia lagi jika perayaan hari besar keagamaan seperti lebaran Idul Fitri gelombang pengemis juga tidak ketinggalan membajiri kota kota besar di tanar air indonesia. Mereka seperti gerombolan datang di tempat tempat keramaian dengan wajah yang iba agar orang memberikan mereka uang. Di satu sisi penertiban terhadap para pengemis musiman itu dapat dibenarkan karena menjadikan rasa iba masyarakat sebagai lapangan pekerjaan, namun di sisi lain bila melihat UUD 1945, sebenarnya nasib kalangan terpinggirkan termasuk kalangan pengemis dan anak-anak jalanan harus dilindungi. Sebagaimana tertuang pada UUD 1945 pasal 34 ayat 1, “Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara”. UUD 1945 juga dipertegas dengan adanya UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Tapi dalam praktiknya apakah UUD 1945 pasal 34 ayat 1 dan UU No. 23 Tahun 2002 ini masih berlaku atau tidak? Karena pada prakteknya para pengemis dan anak-anak jalanan terus bergerilya di perempatan lampu merah untuk mengais rezeki dan malah selalu diburu dalam razia resmi dilakukan aparat pemerintah.

Mengingat kompleknya persoalan pengemis tersebut sehingga memang ada baiknya menyelesaikan persoalan pengemis itu tidak pukul-rata tapi diselesaikan secara perkasus. Misalnya soal anak-anak jalanan yang keberadaannya diekploitasi oleh orang-orang tertentu, tentu dapat diatasi dengan menangkap pelaku yang mengorganisir kegiatan dimaksud untuk kepentingan pribadinya. Namun khusus terhadap anak jalanan yang benar-benar tidak tahu lagi menggantungkan hidupnya, seharusnya ditampung negara sebagaimana amanat UUD 1945 dan UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Begitu pula terhadap gelombang pengemis menjelang hari-hari besar keagamaan yang menyerbu ke kota-kota besar walaupun dengan melakukan razia dan memulangkan mereka ke kampun halaman, di satu sisi penertiban atau razia dianggap perlu akan tetapi semua itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Meski semuanya ini perpulang kepersoalan tidak adanya lapangan kerja dan lemahny sumber daya manusia sehingga mereka mencari kerja yang instan tanpa harus mengeluarkan keringat dan capek  sehingga muncul kerja sampingan menjadi pengemis, pembinaan terhadap para pengemis akan lebih baik, daripada memberikan pemahaman dan nilai-nilai agama kepada mereka. Sebab berdasarkan pengalaman, mereka akan kembali mengemis ke kota. Soalnya yang mereka butuhkan duit agar mereka bisa bertahan hidup sehingga berbagai cara dilakukan, termasuk mengemis.

August 13, 2011 - Posted by | Artikel, Pengemis

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: