kampunghilir

Just another WordPress.com site

Korban Tradisi

Memperhatikan pola tradisi sekarang ini pada para remaja sangatlah miris di karenakan mereka tidak tabu lagi dengan sek bebas atau free sex. Tiada tempat disisakan untuk memberi ruang tumbuhnya Etika dan Religius. Etika dan Religius cuma ada di Pesantren atau dayah dayah dan tempat pengajian. Bahkan jika ada anak muda yang tidak tahu dengan sex bebas di anggap kuno atau ketinggalan zaman sehingga pacaran tanpa seks dianggap hambar.  Memang kegiatan seks yang dianggap lepas kontrol masih sering dirasakan sebagai ancaman. Karena itu seks bebas dijadikan bahan pembicaraan lagi oleh beberapa pakar. Namun, selama ini, apa yang dimaksud dengan seks bebas itu jarang dibicarakan rinci. Apakah seks diluar nikah sama dengan seks bebas. Apakah segala bentuk penyelewengan seks menurut norma bisa dikatakan seks bebas? Apakah pria atau wanita yang belum menikah atau sudah menikah melakukan hubungan sex lebih dari satu pasangan disebut sex bebas? Selama ini, yang disebut seks terkontrol, berdasarkan agama dan peradaban, adalah seks dengan satu orang sesudah menikah. Seks di luar nikah sering dikaitkan dengan seks bebas dengan tindakan yang tak beradab, memang manusia punya kontrol, punya asa dan budaya.

Tapi apalah arti setetes darah, Sebuah Mahkota?

Jadi, tidak saja birahi seks, tetapi kontrol dan hukum adalah bagian dari naluri juga. Karena itulah, seperti berlanjutnya kontrol dan hukum dalam hidup manusia, naluritas seks juga seharusnya diberi perhatian. Namun yang ditekankan dalam kehidupan manusia sekarang adalah kontrol dan hukum akan birahi seks. Seakan-akan kontrol dan hukum adalah irasional. Jadinya, kontrol dan hukum itu dapat menguasai dan melebihi birahi seks. Akibatnya adalah peraturan seks yang serba kaku dan melibatkan kutukan moral bagi para pelanggarnya.

Untuk itu, dalam usaha merebaknya budaya seks bebas di kalangan kaum muda sangat diperlukan penanganan yang koordinatif dan sistematis. Keluarga tidak dapat semata-mata menyalahkan media sebagai penyebar budaya masif tersebut ataupun pemerintah yang seakan cuek dengan kian merapuhnya kualitas moral generasi muda. Keluarga sebagai institusi yang paling fundamental perlu juga lebih meningkatkan kualitas pendidikan moral dan religi agar para generasi muda memiliki bekal yang kuat sebelum melangkah jauh menapaki alam sosial yang lebih luas

July 26, 2011 - Posted by | Korban Tradisi, Opini

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: